Sabtu, 04 Mei 2013 - 14:20:02 WIB
BRICS dan Kekuatan Baru Ekonomi Global
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 10768 kali

 

BRICS dan Kekuatan Baru Ekonomi Global

Oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri

Kota Durban Afrika Selatan, untuk kali pertama menjadi tuan rumah KTT Ke-5 BRICS yang diselenggarakan di benua Afrika, akhir Maret lalu. BRICS adalah singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, dan South Afrika, Afrika Selatan bergabung secara resmi pada KTT BRICS di Sanya, China, tahun 2011 lalu.

Anggota yang tergabung dalam BRICS adalah negara yang sedang pesat pertumbuhan ekonominya.  Akronim ini pertama dicetuskan oleh Jim O’Neill pada 2001. Menurut Goldman Sachs, pada 2050 gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini.

KTT BRIC pertama kali dilaksananakan pada 2009 di kota Yekaterinburg, Rusia. Sejak saat itu BRIC mulai mendeklarasikan menjadi gabungan negara yang tidak hanya bergerak di wilayah ekonomi tetapi juga menjadi kelompok politik untuk mulai membentuk tata dunia baru yang adil dan demokratis. Setelah satu dekade sejak dikenalkannya istilah BRICS oleh Jim O’Neill, mekanisme BRICS telah berperan besar dalam kontribusi pembangunan yang berkelanjutan pada dunia.

Catatan statistik global 2011, BRIC secara GDP, wilayah maupun populasi tercatat mencapai US $ 13,316 milyar yang mencakup sekitar 40 juta kilometer area dengan total populasi sekitar 2,9 milyar manusia atau 40 persen dari total populasi dunia dan 19 persen ekonomi dunia. Dengan latar belakang itulah BRICS mempunyai modal besar dalam pertumbuhan ekonomi global.

Mekanisme BRICS bertujuan untuk mencapai perdamaian, keamanan, pembangunan, dan kerjasama. Hal ini merupakan usaha untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan kemanusiaan dan membangun dunia yang lebih adil.

Anggota BRIC memiliki latar belakang sistem sosial dan ideologi yang berbeda. Tetapi karena kepentingan saling percaya dan menghormati, mereka memiliki pandangan yang sama tentang bagaimana cara untuk mengatasi masalah mendesak terkait perkembangan global.

Kelima negara berkembang tersebut memiliki potensi besar dalam menjaga stabilitas perekonomian dari dampak buruk krisis Amerika dan Eropa, membantu membawa perubahan kuantitatif di seluruh dunia dan memainkan peran penting dalam dialog antara G20 dan G7.

Negara-negara anggota BRICS berusaha menciptakan lingkungan internasional yang damai, dan mempromosikan demokrasi serta kesetaraan dalam hubungan internasional, yang bertentangan dengan mentalitas Perang Dingin yang konfrontatif.

Lima anggota negara BRICS berharap untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil secara ekonomi dan keuangan global, yang sampai saat ini masih didominasi oleh negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat dengan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia-nya.

Selain itu, Sasaran strategis kelompok BRIC adalah untuk membangun keseimbangan  dunia yang demokratis dalam sistem dunia yang multipolar, pembangunan yang berkeadilan dan memastikan bahwa PBB memainkan peran sentral dalam urusan dunia.

China dan Rusia merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dan jika India, Brazil atau Afrika Selatan berhasil mendapatkan kursi Dewan Keamanan permanen, lebih lanjut akan meningkatkan status BRICS dalam pengaruh global.

BRICS berkomitmen untuk memperkuat kemitraan pembangunan umum pada prinsip inklusivitas, solidaritas, dan saling membantu. Mereka akan memperdalam kerjasama tidak hanya dengan negara-negara berkembang lainnya, tetapi juga organisasi-organisasi regional dan internasional.

Sebagai sebuah koalisi yang berbeda dari organisasi internasional lainnya, BRICS berusaha untuk perbaikan lebih lanjut dalam tatanan dunia baru atas dasar Lima Prinsip Koeksistensi Damai dan "Spirit Bandung". KTT Durban melihat prinsip dan semangat dalam menjalankan aksi penuh di bawah tema "BRIC dan Afrika - Kemitraan untuk Integrasi dan Industrialisasi", yang diharapkan menciptakan peluang baik untuk Afrika dan BRICS.

Deklarasi eThekwini                                                                 

Volume perdagangan antara BRIC dan negara-negara Afrika telah meningkat dua kali lipat sejak 2007 dan diproyeksikan akan melebihi US$ 500 miliar pada 2015. Pertumbuhan PDB rata-rata negara-negara Afrika telah mencapai 5 persen selama dekade terakhir. Dan pada 2011, enam dari 10 negara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi PDB di dunia berasal dari Afrika.

Anggota BRICS bertekad untuk bekerja sama dengan negara-negara Afrika untuk saling menguntungkan, ini ditegaskan dalam Deklarasi eThekwini, hasil dari KTT BRICS lalu. Dalam deklarasi tersebut BRICS menyatakan akan membantu penuh pembangunan infrastruktur dan industri negara-negara Afrika serta langkah nyata salah satunya dengan investasi langsung atau foreign direct investment, pertukaran pengetahuan dan  mengimpor barang dari hasil negara-negara tersebut.

Hasil dari pertemuan tersebut  juga menyepakati pendirian "Bank Pembangunan BRICS", sebagai realisasi dari pertemuan-pertemuan sebelumnya dan yang sangat penting karena bank ini akan membantu lima negara memanfaatkan dan meningkatkan keuntungan satu sama lain, mereka juga sangat berharap bisa bekerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya.

"BRIC Development Bank" diharapkan memainkan peran penting dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi lima negara, dan memfasilitasi perdagangan dan investasi. Berbeda dari IMF dan Bank Dunia, Bank Pembangunan BRIC akan disesuaikan untuk menawarkan proyek-proyek pada negara-negara berkembang dengan cara-cara yang lebih menguntungkan dan dalam sistem perdagangan yang adil atau fair trade.

Selain itu mereka juga menyoroti Reformasi IMF yang terkesan lambat karena itu mereka memperkuat suara bersama perwakilan anggota termiskin IMF, termasuk Sub-Sahara Afrika, mendukung dan mendorong reformasi dan perbaikan sistem moneter internasional, dengan berbasis luas pada sistem cadangan mata uang yang memberikan stabilitas dan kepastian global.

Kemunculan BRICS menambah daftar panjang Organisasi Ekonomi Internasional yang sudah ada seperti APEC, G20, G7 dan lain sebagainya dengan model ideologi ekonomi liberal. Diharapkan BRICS bisa memberi warna baru akan sistem ekonomi dunia diluar itu.

Di tengah sistem ekonomi dunia yang sedang mengalami krisis, BRICS dengan potensi yang dimilikinya diharapkan bisa menjadi kekuatan penyeimbang kekuatan ekonomi dunia sekaligus memberikan wajah ekonomi baru bagi dunia yang lebih baik dan memihak akan keadilan terutama bagi negara dunia ketiga.

Tentunya ini juga bisa menjadi pendorong bagi Indonesia kemanakah akan memilih dalam pusaran kontribusi ekonomi global antara ekonomi liberal atau bersama membangun terwujudnya tata dunia yang berkeadilan, dengan ketegasan sikap yang dipilih diharapkan bisa memberikan iklim positif bagi dunia baru. Seperti apa yang pernah ditorehkan oleh pendiri bangsa ini dalam catatan sejarah peran aktif Indonesia di dunia.

Bagi Indonesia, keberadaan BRICS saat ini bisa menjadi motif yang mendorong pemerintah untuk semakin meningkatkan pertumbuhan Ekonomi yang berkelanjutan. Tidak hanya fokus pada pertumbuhan moneter, akan tetapi juga menitikberatkan pada sektor riil yang menjadi penopang kesejahteraan rakyat.

 

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Mahasiswa Pascasarjana China Scholarship Council (CSC) Program Hubungan Internasional Universitas Nanchang, China.

 

 



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)