Rabu, 28 Agustus 2013 - 10:01:21 WIB
RAMADHAN DI NEGERI KOMUNIS
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Edukasi - Dibaca: 333 kali

RAMADHAN DI NEGERI KOMUNIS

            Di dunia ini tidaklah banyak negeri yang bermadzhab komunis. Salah satunya adalah China. Negeri dengan sejarah panjang para Kaisarnya yang hingga kini pemerintahnya masih konsisten menganut sistem komunis. Dengan populasi penduduk terpadat di dunia sebesar 1.3 miliar, tidaklah banyak orang Muslim bisa dijumpai di Negeri ini.  Hanya 20 juta atau 1 persen dari penduduknya yang menganut agama Islam dan tersebar di seluruh kota di daratan China.

            Ramadhan di China tidak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Tidak ada acara penyambutan dan kemeriahan di setiap malam-malamnya. Hanya segelintir warga Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Itupun sudah termasuk warga Muslim asing yang ikut menetap disana.

           Nanchang  adalah nama kota dimana saya menuntut Ilmu. Terletak di propinsi Jiangxi, China bagian tengah. Bagi masyarakat Indonesia, kota ini mungkin tidak popular karena bukanlah kota tujuan wisata utama di China. Akan tetapi kota ini adalah lumbung padi bagi China, mayoritas penduduknya adalah petani. Dan PDB-nya berasal dari pertanian.

Di kota ini, terdapat sekitar 4000 warga Muslim. Mayoritasnya adalah perantau dari propinsi lain yaitu Xinjiang, Gansu, Qinghai, dan Ningxia, empat propinsi di China dengan mayoritas muslimnya. Ketika Ramadhan tiba, para perantau ini akan mudik ke daerah asalnya masing-masing karena bertepatan dengan libur musim panas, otomatis hanya tinggal sedikit orang yang melaksanakan ibadah puasa di kota ini.

Muslim China sebagian besar menganut paham  Madzab Hanafi. Berbeda dengan Indonesia yang mayoritas penduduk muslimnya menganut Madzab Imam Syafi’i. Pada tahun ini Ramadhan di China jatuh pada hari Selasa, 9 Juli 2013. Sebagai pendatang, kami pun mengikuti keputusan Ulama setempat untuk memulai ibadah puasa pada hari tersebut yang diumumkan melalui masjid-masjid di seantero China sejak seminggu sebelum dimulainya puasa, tidak ada sidang Isbat dan tidak ada rukyah karena mereka menggunakan metode Hisab sehingga tidak ada pula khilafiyah seperti yang ada di Indonesia sebelum ditentukannya Ramadhan atau 1 Syawal. Kemungkinan Idul Fitri kami pun akan berbeda dengan keluarga di Indonesia.

            Berpuasa di luar negeri tidaklah semudah berpuasa di negeri sendiri. Banyak tantangan yang harus kita hadapi. Diantaranya adalah cuaca. Negeri dengan 4 musim biasanya mempunyai cuaca yang cenderung ekstrem. Puasa akan lebih singkat bila dilaksanakan di musim dingin. Dan sebaliknya akan menjadi lebih panjang bila dilaksanakan di musim panas.

            Pada tahun ini, bulan Ramadhan jatuh pada musim panas. Dengan cuaca rata-rata di atas 30 derajat, bisa dibayangkan berpuasa di China akan terasa lebih berat. Apalagi waktu puasa pun menjadi lebih panjang. Bila di Indonesia, kita melaksanakan puasa selama kurang lebih 12 jam. Di China ketika musim panas, kita akan melaksanakan puasa lebih dari 16 jam. Biasanya waktu sahur jatuh pada pukul 03.00 dan waktu buka puasa pada pukul 19.30.

            Itupun bisa berbeda kondisi jika berada di daerah China bagian utara yang bisa satu jam lebih lama. Karena kebetulan kami tinggal di daerah China tengah, jadi puasa kami “hanya” membutuhkan waktu sekitar 16 jam. Selain itu, waktu siang yang lebih panjang juga menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Kondisi ini tentunya akan mengganggu metabolisme waktu tidur. Bila biasanya di Indonesia siang dan malam terbagi dengan adil sebanyak 12 jam. Di China, bila musim panas tiba maka waktu malam akan lebih pendek daripada siangnya. Langit baru akan gelap pada pukul 19.00 dan akan terang kembali pada pukul 05.00. Dengan begitu, pada bulan Ramadhan kita hanya mempunyai waktu tidur malam sekitar 3-4 jam sehari. Karena waktu isyak yang lebih lambat akan membuat sholat tarawih baru selesai ditunaikan pada pukul 22.15. Paling cepat, kita bisa tidur pukul 23.00 kemudian bangun kembali pada pukul 02.45.

            Beruntung bagi saya karena tidak menjalankan puasa di China seorang diri. Akan tetapi bersama dengan beberapa teman Indonesia lain dan juga beberapa teman dari negara lain.   Sehingga kami bisa saling bahu-membahu untuk menyiapkan hidangan buka dan sahur serta melaksanakan sholat tarawih berjamaah.

            Di Nanchang, terdapat 2 buah masjid sebagai sarana ibadah. Dibandingkan dengan masjid di Indonesia, masjid-masjid di Nanchang tidaklah besar. Salah satunya serupa dengan ruko 2 lantai, dimana lantai yang kedua digunakan untuk sholat, sedangkan lantai yang pertama digunakan sebagai ruang tamu. Sedangkan masjid yang satunya adalah masjid yang baru saja diresmikan pada Idul Adha tahun lalu, 2012. Masjid ini menyerupai masjid-masjid di Indonesia, akan tetapi hanya dioperasikan untuk sholat Jumat dan sholat Ied saja.

            Ketika Ramadhan tiba, hanya masjid lama (ruko) saja yang difungsikan untuk menunaikan sholat tarawih. Dan jamaahnya pun tidaklah banyak. Hanya sekitar 3 baris saja, sekitar 20 orang. Bagi kami, untuk mencapai masjid ini dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan 2 kali ganti bus umum. Dan kondisi masjid ini pun kurang nyaman, dikarenakan berada dekat dengan proyek pembangunan MRT. Sehingga untuk mencapainya, kami juga harus berjalan kaki sejauh 1 km. Selain itu bila malam tiba, kami harus berkejaran dengan waktu untuk mengjangkau halte terdekat sebelum jam bus terakhir habis.

            Untuk menyiasati hal ini, kami akhirnya melaksanakan jamaah sholat tarawih di asrama. Beruntung kami mendapatkan asrama yang cukup memadai dan cukup luas, sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah untuk 8 orang. Setiap malam, para jamaah lelaki bergilir menjadi imam dan bilal.

            Untuk masalah menu, kami selalu menyajikan masakan bercita rasa Indonesia. Menu takjil kami disini tidaklah jauh berbeda dengan Indonesia. Kolak masih menjadi andalan bagi kami. Bedanya kolak di China tidak variatif seperti di Indonesia, karena bahan-bahannya terbatas. Hanya labu yang bisa kami masak menjadi kolak. Karena pisang di China tidak cocok untuk dimasak apalagi dijadikan kolak. Sedangkan Muslim setempat biasanya mereka memulai berbuka puasa dengan semangka atau roti Arab ditemani segelas air putih. Dibandingkan dengan Indonesia, menu buka puasa di China sangatlah sederhana. Tidak ada teh manis, kolak, ataupun gorengan.  

            Satu hal yang selalu membuat saya rindu akan Ramadhan di Indonesia adalah kemeriahan di setiap malam-malamnya. Semua orang berbondong-bondong memenuhi masjid-masjid dan surau-surau untuk melaksanakan sholat tarawih. Dan setelahnya suara tadarus Quran senantiasa terdengar bersautan bahkan hingga tengah malam. Suasana inilah yang tidak saya temui ketika melaksanakan Ramadhan di negeri China.

            Bagi orang China, ibadah puasa yang mengharuskan seorang Muslim untuk tidak makan dan minum adalah hal yang aneh. Apalagi di musim panas seperti ini. Mereka sering bertanya-tanya kepada kami apakah kami tidak lapar dan haus. Dan terkadang mereka akan mengkhawatirkan kondisi kesehatan kami. Karena musim panas yang ekstrem sangat mudah membuat seseorang terserang dehidrasi . Namun bila kami menjelaskan pada mereka bahwa puasa adalah keyakinan kami, maka mereka pun akan memahami dan memberikan toleransi pada kami.

            Ramadhan tahun ini adalah kali pertama yang saya laksanakan di luar negeri. Pengalaman-pengalaman yang saya rasakan saat ini menambah pemahaman saya akan keragaman budaya Islam di Negara lain. Dan tentunya menjalankan puasa di Indonesia bagi saya adalah yang paling ideal. Tidak banyak kesulitan yang kita hadapi. Dan syiarnya pun terasa hingga seantero negeri.   

           

Hilyatu Millati Rusydiyah

Mahasiswa Indonesia tinggal di Nanchang China

             

           

 

 

            



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)