Rabu, 28 Agustus 2013 - 10:22:52 WIB
HARTA KARUN CHINA SELATAN
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Budaya - Dibaca: 256 kali

Harta Karun China Selatan

 

Oleh : Bambang Prakoso & Rifqi Hasibuan*

Udara siang serasa menyengat saat musim panas menerpa kota Nanchang. Wajar, karena ibukota Provinsi Jiangxi ini memang kota terpanas keempat di China. Namun, cuaca panas ini berbalik membeku saat musim dingin tiba. Di telinga orang indonesia, mungkin kota ini terdengar sayup, tak sekuat gaung kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing atau Guangzhou. Namun dalam kilas sejarahnya, sederet catatan penting membekas di kota ini.

Bangunan-bangunannya (red: Nanchang) berkerumun seperti kabut. Orang-orangnya istimewa seperti bintang ... Para tamu dan tuan rumahnya adalah orang-orang terbaik di bagian tenggara negeri.

Catatan itu dikutip dari prosa Teng Wang Ge Xu (Kata Pengantar untuk Paviliun Teng Wang) karya penyair Wang Bo pada 675. Dan memang, nama Nanchang dalam literatur Han berarti kemakmuran selatan. Satu penanda kemegahan yang pernah hidup di kota ini.

Prosa Teng Wang Ge Xu sendiri adalah karya sastra terkenal, yang menyertai renovasi pertama paviliun Teng Wang. Kutipan prosa itu terpampang di gerbang masuk paviliun, dan banyak kosa katanya dikutip dalam pidato-pidato Mao Zedong. Sedangkan Paviliun Teng Wang adalah satu dari empat paviliun terkemuka di China.

Saat ini, Paviliun itu masih berdiri megah di barat laut kota Nanchang, meski mengalami 29 kali bongkar pasang. Paviliun ini dibangun pada 653 sebagai pusat pemerintahan, setelah Li Yuanying ditugaskan menjadi gubernur. Seiring kompetisi kekuasaan dan pergantian dinasti, paviliun itu kerap mengalami penghancuran dan pembangunan kembali. Pucaknya, Oktober1926, paviliun itu benar-benar luluh menjadi debu akibat perang saudara.

Pada 8 Oktober 1989, sejarah paviliun Tengwang kembali dihidupkan. Di atas lahan 13 ribu meter persegi, bangunan itu berdiri megah setinggi 57,5 meter, dilengkapi dengan area taman dan arena pertunjukan. Uniknya, paviliun Teng Wang saat ini juga menyajikan bentuk perubahan arsitektural seiring bongkar pasang yang dialami. Dengan begitu, pengunjung masih bisa mengenang panorama yang dicatat Wang Bo 1400 tahun silam:

Mendorong pintu berhias ukir-ukiran rumit, memandang langit-langit atap dengan lukisan-lukisan brilian. Pegunungan dan lembah maha luas menghampar di depan mata. Lekuk-lekuk danau dan aliran sungainya sungguh menakjubkan.

Ya, Nanchang memang memiliki banyak danau dan sungai. Yang paling terkenal adalah Poyang, danau raksasa yang dikelilingi danau-danau kecil. Danau ini merupakan habitat kawanan bangau, bebek dan angsa. Saat musim dingin, 95 persen bangau siberia bermigrasi ke danau ini, menyajikan pemandangan yang sangat cantik. Selain itu, ada juga danau Xiang, Qingshan, Aixihu dan banyak lagi danau-danau kecil.

Kalau sudah puas menikmati kilas sejarah dinasti di paviliun Tengwang, kita bisa menengok kilas sejarah yang lebih modern. Tapi tunggu dulu, mungkin kita perlu belanja atau sekedar melihat-lihat souvenir. Barang-barang itu tersedia tepat di pelataran luar paviliun Tengwang.

Nah, setelah itu kita perlu menempuh perjalanan 15 menit dengan taksi menuju museum Pemberontakan 1 Agustus. Museum ini menyajikan berbagai relief, gambar, mau pun koleksi sejarah penguasaan kota Nanchang oleh Partai Komunis China. Peristiwa bersejarah ini dilatari keretakan Front Persatuan. Ciang Kaishek (jiǎng jiè shí 蒋介石) membantai orang-orang yang diduga komunis, termasuk di Komune Nanchang pada April 1927.

Pada 1 agustus 1927, Zhou Enlai (zhōu ēn lái 周恩来) and Zhu De (zhū dé 朱德), dua anggota tentara nasionalis berhaluan komunis, mengobarkan pemberontakan. Dengan 30 ribu pasukan, mereka menguasai Nanchang selama 3 hari, setelah 5 jam menundukkan tentara republik. Namun, kemenangan itu tak bertahan lama. Mereka kembali dihalau tentara republik, hingga menyingkir ke Gunung Jinggangshan. Dari situlah, mereka bergabung dengan sekelompok pasukan yang dipimpin pemuda dari Hunan, Mao Zedong.

Jejak sejarah itu disajikan dalam relief pahatan berikut berbagai keterangannya. Mengikuti timeline sejarah yang tersaji, serasa memasuki masa awal pendirian Republik Rakyat China. Dari museum dan paviliun Tengwang, seolah kita mengikuti dua penggal sejarah China yang sangat panjang, yaitu sejarah China lama dan China modern.

Puas menyimak sejarah, mungkin kita perlu mengisi perut dulu. Jangan khawatir, ada banyak warung makan di sana, mulai dari masakan lokal sampai fast food wara laba, mulai dari warung-warung kecil hingga resto. Kalau ingin masakan halal, ada beberapa warung muslim yang dijalankan warga Uighur.

Mungkin, setelah makan siang kita perlu rehat sejenak. Ada taman kota yang cukup nyaman untuk ngadem. Atau, kalau ingin tempat terbuka, kita bisa mencari pinggiran danau yang cukup nyaman. Salah satu anak danau terdapat di tengah area pertokoan, hanya perlu jalan kaki 20 menit dari museum. Ada tempat duduk tersedia, kalau ingin melepas lelah sambil baca buku, menikmati snack, atau sekedar mengamati danau dan orang berlalu lalang.

Saat menjelang senja, jangan keburu pulang. Singgahlah di alun-alun 1 Agustus. Orang lokal biasa menyebutnya Bayi Guangchang (baca: Pa I Kuangchang). Dari museum hanya perlu jalan kaki 30 menit. Alun-alun ini terdiri dari area memorial, budaya dan rekreasi. Keseluruhan luasnya mencapai 127 ribu meter persegi.

Yang menarik di waktu senja, yaitu pemutaran lagu-lagu perjuangan, mengenang pemberontakan 1 Agustus. Lagu-lagu yang dikemas dalam kombinasi etnik dan aransemen modern terasa akrab membelai pendengaran. Lagu-lagu diputar dari tugu monumen yang berhimpit dengan kolam dan dikelilingi ruang terbuka.

Saat lagu diputar, puluhan air mancur melompat ke udara. Pancaran airnya menebar, meliuk-liuk, secara ritmis menyesuaikan nada lagu yang diperdengarkan. Memancar dari 4 ribu nozzle air, tarian air itu semakin terlihat anggun dengan cahaya warna-warni yang silih berganti sesuai corak lagu yang diputar.

Tak heran, setiap hari warga Nanchang berbondong-bondong mendatangi tempat ini. Mereka berkerumun di depan tugu, atau di sekitar kolam. Memang, di antara mereka ada yang sekedar menonton tarian air sambil berdecak. Ada juga yang hanya duduk santai di taman. Ada yang sibuk bermain sepatu roda, anak-anak saling berkejaran. Tapi, ada juga yang serius menyimak lagu-lagu yang diperdengarkan.

Paradoks, sepertinya kata itu tepat untuk menggambarkan suasana senja di Bayi Guangchang. Mungkin separadoks negeri China sendiri, yang merombak ekonomi sosialis, mengikuti alur pasar, tapi mempertahankan politik komunis. Mungkin, mereka memandang situasi paradoks perlu dipertahankan demi keberlanjutan dialektika. Mungkin juga, semua itu kebetulan semata.

Yang pasti, Nanchang memiliki banyak catatan dialektika bangsa China. Mulai dari sejarahnya sebagai pusat pangan, daerah kesusasteraan, hingga tonggak pemberontakan. Sebagai destinasi wisata, Nanchang memiliki keunikan yang membuatnya layak dikunjungi. Hal itu sudah ditulis 1400 tahun lalu oleh Wang Bo, dalam prosa Teng Wang Ge Xu: Inilah (red: Nanchang) intisari kehidupan, harta karun pada Dewa ...

* Mahasiswa Jiangxi Normal University

 

Dimuat di rubrik “Perjalanan” Tabloid politik Prioritas



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)