Selasa, 24 Februari 2015 - 21:54:41 WIB
Diplomasi lewat Perayaan Imlek
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Politik - Dibaca: 1088 kali

Diplomasi lewat Perayaan Imlek

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Harian Suara Merdeka, 18 Feb 2015

"Tiongkok memadukan kedekatannya dengan negara lain melalui pendekatan sejarah kebudayaan dan ekonomi"

HIASAN berwarna serbamerah dan aktivitas keluarga tengah menempelkan kertas berisi harapan dari Tahun Baru Imlek 2566 di pintu masuk rumah, menjadi iklan yang gencar ditayangkan menjelang Imlek oleh saluran televisi milik pemerintah Tiongkok, yakni China Center Television (CCTV). Imlek (Bahasa Mandarin: Chun Jie) adalah momentum perayaan Tahun Baru Tiongkok yang populer di dunia. Bahkan bisa dikatakan menempati posisi kedua setelah perayaan Tahun Baru Masehi.

Fenomena itu tidak mengherankan mengingat pengaruh Tiongkok saat ini sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS, dan didukung sebaran Chinese Overseas atau Tionghoa Perantauan ke seluruh penjuru dunia. Istilah Tionghoa perantauan umumnya digunakan untuk merujuk sekitar 46 juta etnis Tionghoa yang tinggal di luar Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, dan Makau.

Berdasarkan data International Migration Organization (IMO), dari sekitar 200 juta migran di dunia; 39,5 juta di antaranya beretnis Tionghoa dan tersebar di 130 negara. Migrasi Asia, baik domestik maupun internasional, adalah yang terbesar secara global. Tiongkok dan India mencapai 35% dari migran di dunia: lebih dari 70 juta orang. Jumlah migrasi internasional bergantung pada dua negara tersebut. (Gomez DĚaz; 2012), termasuk di Indonesia yang berjumlah sekitar 2,8 juta orang. (2010).

Pemerintah Tiongkok juga secara resmi aktif mengenalkan kebudayaan mereka melalui olahraga, media, film, dan sebagainya. Kita bisa menyebut keaktifan itu antara lain menjadi tuan rumah Olimpiade Beijing 2008, mendirikan media China Radio International (CRI) dengan 40 bahasa, saluran televisi internasional CCTV, mendidikan Institut Konfusius (Confucius Institute) di sejumlah negara dan sebagainya.

Diplomasi Budaya

Saluran CCTVdan Istitut Konfusius saat ini menjadi salah satu tulang punggung pemerintah Tiongkok dalam mengenalkan secara masif wajah dan citra baru negara itu ke dunia. Institut Konfusius adalah lembaga serupa Goethe Insititute atau British Council. Lembaga yang namanya merujuk filsuf Tiongkok ini bertujuan mengenalkan bahasa dan budaya Tiongkok, di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan negara itu, dan menggandeng perguruan tinggi di negara tujuan.

Di Indonesia, Institut Konfusius populer dengan sebutan Pusat Bahasa Mandarin, beroperasi di perguruan tinggi dan sekolah menengah. Lembaga ini memfasilitasi orang asing, baik guru maupun masyarakat, untuk belajar Bahasa Mandarin, menyediakan guru native speaker dan materi pendidikan. Termasuk memberikan layanan konsultasi terkait pendidikan, kebudayaan, perekonomian, dan sosial Tiongkok.

Sejak didirikan di Seoul tahun 2004 hingga akhir 2014, sudah 475 Institut Konfusius dengan 851 kelas berdiri di 126 negara, dengan 3,45 juta siswa. Khusus di Indonesia, saat ini terdapat di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Malang, dan Makassar. Apa yang dilakukan Tiongkok dalam pendekatan kebudayaan ke negara lain secara serius dan konsisten itu adalah bagian dari diplomasi budaya. Menurut Milton C Cummings, diplomasi budaya adalah pertukaran ide, informasi, nilai-nilai, sistem, tradisi, kepercayaan, dan aspek lain dari budaya, untuk memupuk saling pengertian.

Diplomasi budaya adalah salah satu alat dari soft diplomacy yang konsepnya diintroduksi Joseph Ney (1990) dari Harvard University. Pola itu lebih menekankan pada kemampuan menarik dan mengooptasi, dan tidak menggunakan kekerasan atau tindakan koersif dalam menghadapi negara lain. Bahkan, soft power tersebut menjadi alat utama diplomasi masa kini yang disebut soft diplomacy, melalui pendekatan ekonomi, politik, ataupun budaya.

Kecenderungan melaksanakan soft diplomacy dengan menerapkan aplikasi soft power dianggap lebih efektif, efisien, dan mudah dilakukan tanpa harus menelan ’’korban’’ dan menghabiskan biaya besar. Namun tak bisa dimungkiri bahwa pendekatan soft power memakan waktu relatif lama.

Pendekatan Sejarah

Dalam membangun relasi, pendekatan budaya oleh Tiongkok ke negara-negara lain berbeda dari model pendekatan Barat selama ini. Tiongkok memadukan kedekatannya dengan negara lain melalui pendekatan sejarah kebudayaan dan ekonomi. Konsep itu berlandaskan premis bahwa belajar tentang budaya dan peradaban negara lain bisa memupuk hubungan yang lebih kuat.

Menghargai pentingnya budaya, relasi, dan pendekatan komunikasi jejaring dari Tiongkok dalam membangun soft power adalah nilai dan pelajaran berharga dari diplomasi budaya, yang bisa kita ambil menfaatnya. Penekanan Tiongkok lewat diplomasi budaya jadi kekuatan yang sangat signifikan dari bagian soft power negara itu untuk melihat wajah Tiongkok yang lebih ramah dan bersahabat.

Karakteristik budaya inilah yang digunakan oleh Tiongkok dalam menjalin hubungan jangka panjang dengan negara lain, yang bersifat seimbang dan saling menguntungkan. Karakter itu sebagaimana tercermin dari sejarah panjang peradaban Tiongkok yang masih eksis hingga saat ini: tradisi Tahun Baru Imlek atau Chun Jie. (10)

— Ahmad Syaifuddin Zuhri, alumnus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Nanchang University, Tiongkok

Dimuat di http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/diplomasi-lewat-perayaan-imlek/ pada 18 Februari 2015 4:49 WIB  



    Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)