Minggu, 08 Maret 2015 - 11:45:39 WIB
Relasi Tradisi Tionghoa dan Diaspora di Dunia
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Politik - Dibaca: 13261 kali

Relasi Tradisi Tionghoa dan Diaspora di Dunia

Oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri

Harian SOLOPOS, 7 Maret 2015

Setelah Hari Raya Imlek atau Chun Jie pada 19 Februari lalu. Masyarakat Tiongkok menjalani tradisi selanjutya sebagai penutup: Lantern Festival (Mandarin: Yuanxiao Jie) atau di Indonesia lebih dikenal dengan Cap Go Meh yang jatuh pada 5 Maret lalu. Yakni tradisi 15 hari setelah hari Raya Imlek. Sambil berkumpul dengan keluarga melihat dan meletakkan lampion-lampion merah yang ditaruh didepan rumah, jalanan atau diterbangkan sambil makan makanan sejenis wedang ronde.

Kedua tradisi khas Tiongkok tersebut menjadi agenda yang sangat sakral dan penting bagi warga Tionghoa. Tidak hanya di dalam negeri, akan tetapi juga etnis Tionghoa yang tersebar diseluruh dunia.

Demi merayakannya, jutaan masyarakat Tiongkok mudik ke kampung halaman untuk merayakan bersama dengan orangtua dan sanak famili.

Fenomena mudik Imlek atau dikenal dengan Chun Yun di Tiongkok menjadi mudik terbesar di dunia. Diperkirakan ada sekitar 300 juta warga yang menjalaninya. Menghadapi besarnya angka mudik tersebut pemerintah dengan sangat serius membangun jaringan jalan tol dan rel kereta api. Dua tulang punggung infrastruktur transportasi di Tiongkok. Khususnya moda kereta api. Pemerintah membangun banyak jaringan rel baru dan kereta super cepat dengan daya dukung stasiun yang mampu menampung ratusan ribu orang tiap harinya. Fasilitasnya hampir setara dengan bandara internasional dan terdapat di tiap kota-kota besar.

Berdasar data resmi yang dirilis dari Kementrian Perhubungan. Selama sepekan libur Imlek lalu, operator penerbangan Tiongkok menerbangkan lebih dari 60.000 penerbangan, naik 7,8 persen dari tahun lalu. Dan sampai tanggal 24 Februari kemarin, menerbangkan lebih dari 1.35 juta penumpang,

Sementara China Railway Corp, operator kereta api negara itu, mengatakan, menangani enam juta perjalanan pada hari Rabu di pekan terakhir Februari lalu. China Railway Corp memperkirakan bahwa sekitar 289 juta perjalanan akan dilakukan selama 40 hari Chunyun tahun ini, naik 26 juta dari periode tahun lalu. Meningkat rata-rata tujuh juta perjalanan dilakukan dengan kereta api setiap hari selama periode tersebut.

Perusahaan itu menjalankan 3.063 rangkaian gerbong kereta selama puncak perjalanan Imlek kemarin, meningkat 335 dari tahun lalu.

Tidak ada kenaikan harga tiket ataupun kemacetan parah seperti kita lihat di Indonesia ketika musim mudik Lebaran tiba. Semua harga tiket normal, bahkan harga tiket pesawat banyak promosi dan bisa hampir setengah dari harga normal.

Pemerintah Tiongkok benar-benar memfasilitasi warga yang akan mudik Imlek secara maksimal. Mereka sangat menyadari bahwa pelayanan prima adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.

Tingginya urbanisasi dengan pertumbuhan kota-kota megapolitan menjadi fenomena yang benar-benar menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Walaupun pemerintah sudah berusaha meyeimbangkan pembangunan antara Tiongkok bagian timur dan barat. Tetapi, arus urbanisasi tetap tinggi di daerah timur seperti di Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen dan lainnya.

Diaspora Tionghoa

Tidak hanya urbanisasi, Tiongkok juga menjadi penyumbang imigran terbesar di dunia. Dari data yang dirilis oleh International Immigration Organization (IMO) terdapat sekitar 200 juta imigran di dunia.  Imigran dari Tiongkok sekitar 39.5 juta orang yang tersebar di 130 negara. Imigran Asia, baik di domestik maupun internasional adalah terbesar di dunia. Tiongkok dan India menyumbang angka sekitar 35% atau lebih dari 70 juta orang.

"Chinese Overseas” atau Tionghoa perantauan umumnya digunakan untuk merujuk etnis Tionghoa yang tinggal di luar Tiongkok, Hong Kong, Taiwan dan Makau. Periode migrasi ini dapat ditelusuri kembali melalui sejarah, fenomena umumnya disebut sebagai "Chinese Diaspora" sejak pertengahan abad ke-19.

Hampir seluruh Negara di benua Eropa, Asia, Amerika, Afrika dan Oceania terdapat etnis Tionghoa yang tinggal atau menetap. Baik menjadi warga negara di negara tujuan maupun yang masih berstatus WN Tiongkok.

Di Eropa, diperkirakan ada sekitar 2.25 juta orang (2011), terbanyak tersebar di Inggris, Perancis dan Italia. Di Rusia, sekitar 300.000 (ECA,2008). Afrika, sekitar 1 juta (2012) yang tersebar di Afrika Selatan, Tanzania, Zambia, Ghana, Nigeria, Angola, Mauritius, Madagaskar dan Mauritius. Di Asia, paling banyak di Asia Tenggara sekitar 30 juta, tersebar paling banyak di Thailand disusul Malaysia, Indonesia, Singapura, Myanmar, Filipina dan Vietnam.

Di Amerika Utara, sekitar 4,5 juta, tersebar di Amerika Serikat dan Kanada. Amerika Tengah dan Selatan, sekitar  2,5 juta terbanyak di Peru, Venezuela, Brazil, Panama, Argentina, Kuba dan lainnya. Di Oseania, sekitar 1.134 juta tersebar di Australia, Selandia Baru dan beberapa Negara kepulauan di Pasifik.

 

Memengaruhi Perekonomian

Diaspora Tionghoa juga sangat mempengaruhi kemajuan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Mereka banyak berkontribusi terhadap tanah leluhurnya. Diperkirakan, mereka mengkontrol asset likuid sekitar USD 1.5-2 miliar. Mereka juga sering mengirim remiten ke keluarga mereka di Tiongkok untuk membantu secara finansial dan sosio-ekonomi yang lebih baik.

Diaspora Tionghoa di dunia juga menjadi salah satu alat yang berpengaruh. Tak hanya untuk mempromosikan budaya Tiongkok, tetapi juga memfasilitasi untuk lobi bisnis, pertumbuhan ekonomi dan tujuan diplomatik. Jejaring komunitas pebisnis Diaspora Tionghoa di Asia Tenggara misalnya, mengembangkan jejaring yang biasa dikenal dengan “Bamboo Network” dan mempunyai pengaruh yang kuat terutama di sektor privat di kawasan ini.

Tak perlu heran bila jejaring Diaspora Tionghoa di dunia bagi pemerintah Tiongkok menjadi kekuatan utama dari luar yang membantu negara tersebut. Sehingga, disetiap level pemerintahan mulai dari tingkat Kota sampai Nasional di Tiongkok mempunyai kantor khusus yang menangani jejaring Diaspora yang biasa disebut dengan Waishi Bangongshi atau Foreign Affair Office.

Latar belakang tersebarnya Diaspora Tionghoa beragam. Jika pada abad 19-20 adalah mayoritas berlatar belakang mencari kesejahteraan ekonomi yang lebih baik. Maka, pada saat ini terbanyak disumbang oleh latar belakang pendidikan, seperti di Eropa dan Amerika. Sementara di benua Afrika, karena banyaknya investasi Tiongkok ditanamkan secara besar-besaran di benua tersebut.

Banyaknya imigran etnis Tionghoa yang tersebar tersebut juga memunculkan banyaknya pertumbuhan sentral etnis Tionghoa beraktifitas atau yang biasa disebut dengan China Town atau Pecinan di Negara-negara tujuan. Sehingga memunculkan banyak pengaruh asimilasi budaya di dunia.

Kekuatan jaringan Diaspora dan kecintaan akan tanah leluhurnya inilah yang menjadi salah satu penyebab Tiongkok saat ini menjadi negara yang tingkat kemajuannya paling pesat di dunia.

Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Nanchang University, Jiangxi, Tiongkok.

Link : http://epaper.solopos.com/

 

 

 



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)