Kamis, 21 November 2013 - 10:03:12 WIB
Pecel dan Soto Ayam Laris Manis
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Budaya - Dibaca: 249764 kali

Festival Masakan Indonesia di China

Pecel Kangkung dan Soto Ayam Laris Manis

 Harian Suara Merdeka, 20-11-2013

BERBAGAI cara bisa dilakukan untuk mengekpresikan kecintaan mahasiswa di luar negeri kepada Tanah  Airnya. Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Tiongkok Nanchang, Provinsi Jiangxi, China, kemarin (16/11) menggelar festival masakan Indonesia (Indonesian Food Festival).  Dalam istilah China acara itu disebut Yinni Mei Shi Jie.

Di provinsi Jiangxi mahasiswa Indonesia terkonsentrasi di tiga kampus perguruan tinggi besar yaitu Nanchang University (NCU), Jiangxi Normal University (JNU) dan Jiangxi Agriculture University (JAU). Tahun lalu mereka sukses menggelar festival budaya Indonesia. Sedang kemarin mereka menggabungkan antara “Yinni Mei Shi Jie” atau festival makanan dengan aneka budaya seperti “Indonesia Traditional fashion show”, musik terbang rebana, angklung, serta lagu-lagu dan tarian khas Indonesia.

Ribuan orang China tumplek-blek menjadi satu di halaman “first restaurant”, pusat keramaian di kampus NCU yang sangat luas itu. Sambil menikmati aneka macam masakan Indonesia, mereka menyaksikan berbagai atraksi di panggung. “Kami sengaja memilih lokasi outdoor agar grengsengnya lebih meriah,” tutur Boihaki, Ketua Panitia Festival.

Acara dimulai pukul 15.00 dan berakhir pukul 17.00 waktu China.  “Karena festival makanan, jadi kami sesuaikan dengan jam makan malam orang China yaitu pukul 17.00. Kalau budaya Indonesia kan makan malam biasanya pukul 19.00 sesudah shalat maghrib atau isya,” tutur Boy, panggilan Boihaki.

Makanan Indonesia yang diperkenalkan kepada masyarakat China yaitu Soto Ayam, Nasi Tumpeng, Nasi Kuning, Pecel, Rujak, Bakwan, Tahu Isi, Klepon, Pisang Goreng, Nagasari, Lemper, Dadar Gulung, Teripang, Palu Butung Makasar, Rempeyek dan lain-lain. “Masakan Indonesia kalau dimasak dengan baik dan dikemas apik, tidak kalah dengan masakan Sichuan China yang sangat terkenal di seluruh dunia,” kata Wakil Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Ahmad Syaifuddin Zuhri.

Diserbu Pembeli

Selain menyajikan masakan yang siap saji, para mahasiswa memajang bumbu-bumbu dan alat dapur yang sengaja dibawa dari Indonesia. Di stand rujak dan pecel dipajang cobek dan munthu atau “ulek-ulek” dari batu. Orang-orang China yang sudah mengantre sejak pukul 14.00 atau satu jam sebelum acara dimulai melihat dengan heran budaya orang Indonesia “mengulek” sambal. “Zhe shi shenme, zhe shi shenme (ini apa),” kata mereka berkali-kali sambil menunjuk-nunjuk berbagai makanan dan perabot dapur yang ada di depannya. Mereka tak sungkan-sungkan mencoba ikut memegang ulekan dan melumatkan bumbu rujak dan pecel.

Beberapa bumbu dapur yang sulit ditemui di China antara lain terasi, gula jawa, sere, kunyit, daun salam, daun jeruk wangi, lengkuas dan lain-lain khusus didatangkan dari Indonesia. Semua makanan dimasak oleh mahasiswa sendiri sesuai keahlian masing-masing. Zuhri misalnya mendapat tugas membuat Soto Ayam. Saat kuliah S1 di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dulu dia memang “nyambi” jualan ayam goreng bebek goreng dan soto. Mila membuat nasi kuning dan tumpeng. Agus Fathuddin Yusuf dan Fatquri membuat pecel dan rujak, Benny membuat lemper, Nelly dan Elfa membuat klepon, dadar gulung dan aneka snack. Riyanto Aji dari Tegal membuat rempeyek kedelai, mahasiswi dari Makassar mendapat bagian membuat pallu butung dan lain-lain. Praktis semalaman mereka tidak tidur menyiapkan bahan makanan yang akan disajikan di arena festival.

Mencari daun pisang di China untuk bungkus nagasari dan lemper juga bukan persoalan mudah.  Mereka harus pergi jauh ke suatu tempat untuk mendapatkannya.

Mahasiswa yang lain seperti Nur Widiyanto, Najibullah, Khairuddin, Farhandika Akbar, dan Khalik bertugas melatih mahasiswi asli China yang main angklung, batik fashion show, terbang rebana dan lain-lain. “Tidak ada mahasiswa yang menganggur. Semuanya sibuk,” tutur Boihaki.

Begitu acara dibuka secara resmi oleh Fu Yan Laoshi yang mewakili International Exchange College Nanchang University, ribuan orang China langsung menyerbu tenda makanan.

Mereka tidak gratis tapi membeli makanan yang sudah siap makan. Satu mangkok soto ayam dijual 5 RMB atau sekitar Rp 10.000. Nasi kuning, pecel dan rujak juga dihargai 5 RMB semangkok. Sedang makanan kecil seperti klepon, dadar gulung, pallu butung, rempeyek dan lain-lain dihargai 2 RMB. Tidak sampai satu jam makanan yang dipajang habis tanpa sisa.

Upacara pembukaan ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh Wakil Ketua Umum PPI Tiongkok Ahmad Syaefuddin Zuhri. Potongan tumpeng itu diserahkan kepada Fu Yan Laoshi. Fu Yan tampaknya juga terheran heran melihat nasi kuning dibuat kerucut dengan aneka lauk di sekelilingnya. Dia kemudian menabuh jidur menandai pembukaan festival, kemudian Nur Widiyanto menyambutnya dengan musik terbang rebana shalawat “Ya Nabi Salam”.

Makan Rujak Sambil Nonton Batik Fashion Show

MUNGKIN baru ada kali pertama, nonton batik fashion show hidangan tersaji di meja tamu VIP rujak dan pecel. Bagi Prof Dr Wang Wei Ming juga tamu undangan lainnya makan pecel kangkung dan rujak baru pertama dalam hidupnya. “hen haochi (enak sekali),” kata Wang Wei Ming sambil mengangkat mangkuk rujak yang dipegangnya. Dosen mata kuliah jurnalistik Nanchang University itu tampak menikmati hidangan khas Indonesia tersebut. Mr Lu Hao Jun pimpinan Nanchang Power Plant, perusahaan listrik yang menjadi mitra PLN Indonesia tampak duduk di deretan tamu VIP. Ia datang bersama istri dan anaknya. “Saya datang ingin mencicipi masakan Indonesia,’’ kata pria yang Desember mendatang akan bergabung dengan PT Indonesia Power di Adipala Kabupaten Cilacap. Di sebelahnya Abdullah Ma Zhen Qian pemilik kantin muslim Nanchang University yang akrab dengan mahasiswa Indonesia asyik menikmati soto ayam.

Yang menarik, acara tersebut juga dihadiri delapan orang China yang pernah menjadi WNI. Karena persoalan dalam negeri Indonesia di era Soekarno mereka kemudian hijrah ke China. Prof Chen Ayi masih sangat fasih berbahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa krama inggil. “Selain kangen masakan Indonesia, kami ingin memberi support anak anak mahasiswa Indonesia,” kata Chen Ayi yang pernah menjadi penerjemah Presiden Soekarno saat berpidato di Peking. Mereka tak sungkan-sungkan merogoh kocek sampai 200 RMB untuk memborong makanan yang pernah mereka nikmati 50 tahun lalu. “hen haochi, hen haochi,” teriak mereka sambil menunjukkan jempol sebagai pujian kepada mahasiswa Indonesia.

Di panggung Nur Widiyanto sibuk mengatur pentas seni budaya Indonesia yang mengalir tanpa jeda mulai pukul 15.15 waktu China.

Diawali dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dipimpin Intan, mahasiswi dari Makassar. Ketika Zuhri memotong tumpeng nasi kuning dan menyerahkannya kepada Fu Yan Loashi, Nur Widiyanto mulai menjelaskan bagaimana proses membuatnya, apa bahannya juga bumbu-bumbunya. Hampir semua yang hadir mengabadikan moment itu dengan kamera SLR maupun kamera hp. Beberapa wartawan dari Koran lokal seperti Jiangxi Daily juga meliput acara tersebut.

Musik Rebana

Grup musik terbang rebana mahasiswa NCU mendapat giliran pertama tampil di panggung terbuka. Mereka membawakan sebuah shalawat “Ya Nabi Salam” yang disuarakan Intan dan Zuhri. Tepuk tangan tak henti-hentinya mengiringi penampilan mereka. Menurut Prof Chen Ayi, Beduk, Kendang, Jidur nenek moyangnya dulu berasal dari China. “Jadi kalau anak anak Indonesia sekarang mahir memainkan terbang rebana, di China malah sudah tidak ada,” kata Chen. Hampir semua pengisi acara mulai dari MC, angklung, batik fashion show, tarian Xinjiang, penulisan kaligrafi china semua dilakukan oleh mahasiswa asli China. “Mereka, mahasiswa China kita ajak latihan bersama ternyata cepat untuk bisa memainkan musik angklung,” kata Nur Widiyanto. Delapan mahasiswa dan delapan mahasiswi asli China yang tergabung dalam Chinese Foreigner Club dan fakultas Bahasa China untuk Asing mengiringi dua lagu yaitu “My Heart Will Go On” dan “Ni Wen Wo Ai Ni”.

Tiga belas mahasiswi dari Art and Design Faculty pimpinan Chen Laoshi menyuguhkan lagu khas Maluku yang sangat popular di China “Ayo Mama”.

Pada kesempatan itu Yan Chen Ning mendemonstrasikan kemahirannya menulis “shufa” kaligrafi tulisan China yang sangat indah. Dia menulis “Zhongguo-Yinni you yi changcun Yinni Meishi Jie” yang artinya persahabatan selamanya Indonesia-China. Gemuruh tepuk tangan hadirin tak henti-hentinya disambut kilatan cahaya kamera.

Sesaat kemudian, pengunjung dihipnotis oleh Tarian Xinjiang yang dimainkan oleh tiga mahasiswi dan tiga mahasiswa asli Provinsi paling barat China itu. Musalimah, gadis Xinjiang yang memimpin grup itu berputar putar seperti Tarian Sufi yang lagi populer di Indonesia. Mahasiswa Indonesia dari Jiangxi Normal University  menampilkan atraksi akustik.

Batik fashion show diperagakan bukan oleh model professional. Melainkan oleh 10 mahasiwa dan 10 mahasiswi asli China yang memakai busana batik milik mahasiswa Indonesia. “Batik Yifu hen haokan (baju batik Indonesia sangat indah),” kata mereka. Meski bukan model sungguhan, tapi mereka tak kalah gemulainya berlenggak-lenggok di atas panggung.

Empat nenek-nenek yang dulu pernah menjadi WNI minta waktu naik ke panggung untuk bernostalgia menyanyikan lagu “Bengawan Solo”. Meski tanpa iringan music, mereka tampak sumringah menyanyikan lagu karya maestro almarhum Gesang. Di akhir acara Sri Widagdo mahasiswa Indonesia dari Jiangxi Normal University menggoyang panggung dengan joget Caesar. Semua pengunjung tanpa terkecuali termasuk tamu VIP diajak serta bergoyang Caesar.

Acara tersebut tidak lepas dari kerja keras panitia yang berjumlah 18 orang dengan dana yang sangat terbatas dan walaupun Dubes RI atau yang mewakili berhalangan hadir karena dalam waktu yang bersamaan ada agenda lain tetapi tidak menyurutkan semangat dan kesuksesan acara tersebut.  (Agus Fathuddin Yusuf)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2013/11/20/1080/-Pecel-Kangkung-dan-Soto-Ayam-Laris-Manis 



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)