Selasa, 24 Maret 2015 - 21:11:27 WIB
Mahasiswa Indonesia Jadi Host di TV Tiongkok
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Budaya - Dibaca: 2509 kali

TIONGKOK - Ada banyak cara mahasiswa Indonesia melewatkan libur selama musim dingin di Tiongkok. Mulai dari berwisata, main ke rumah teman lokal atau malah pulang ke Indonesia. Namun, berbeda dengan Muhammad Nurckhalik Djirimu, mahasiswa asal Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang tengah menempuh studi Magister Hubungan Internasional di Nanchang University, kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok. Dia melewatkannya dengan menjadi bintang tamu di sebuah acara reality show stasiun TV lokal, Jiangxi TV 2 (JXTV 2). Stasiun TV terbesar dan terpopuler di Provinsi Jiangxi ini memiliki lima saluran atau channel.

Melalui seleksi dari internal kampus, dia dan Nigara (mahasiswi asal Turkmenistan) berhasil lolos dan direkomendasikan oleh pihak kampus untuk mengisi salah satu program Jiangxi TV 2 "Bagaimana Orang Asing Merayakan Imlek". Dari rencana awal, Ckhalik dan Nigara hanya diberi kesempatan untuk mengisi satu episode yaitu episode pertama. Kemudian seterusnya akan diisi oleh mahasiswa asing di kampus lain di Provinsi Jiangxi secara bergantian sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tapi karena mendapat respons positif dari penonton dan kru Jiangxi TV saat penayangan perdana program tersebut, mereka akhirnya berlanjut mengisi episode-episode berikutnya.

"Nigara, mahasiswi cantik dan juga seorang penari yang menguasai semua tarian tradisional suku Han Tiongkok, serta Ckhalik, aktif dan memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah dan budaya Tiongkok membuat kami sangat terkejut. Berawal dari situ kami akhirnya memutuskan menambah episode untuk mereka," ungkap He Nu Shi, salah seorang kru Jiangxi TV 2.

Salah seorang staf di Internatioal Exchange College Nanchang University, Tuna Laoshi, menjelaskan, Ckhalik dan Nigara dipilih berdasarkan aktivitas dan prestasinya. "Berkat keaktifannya mengikuti dan meraih predikat Juara II lomba Chinese Bridge se-Sulawesi saat di Indonesia, serta Chinese Speech Competition dan Chinese Songs Competition saat menempuh studi di Universitas Nanchang, Ckhalik kami rekomendasikan untuk menjadi bintang tamu di acara tersebut. Sedangkan Nigara, pernah menjuarai Chinese Competition Jiangxi Province," ujar Laoshi.

Ckhalik bercerita, sejauh ini telah mengisi lima episode. Episode pertama, diambil saat hari pertama masyarakat Tiongkok merayakan Imlek dengan mengambil latar belakang kehidupan dan aktivitas apa yang dilakukan oleh orang asing saat Imlek tiba. Episode kedua, dia dan Nigara dibawa diperkenalkan ke sebuah keluarga Tiongkok di pusat Kota Nanchang untuk merasakan bagaimana hidup bersama dalam suasana Imlek, mereka pun dianggap seperti anggota keluarga.

Episode ketiga, mengambil latar belakang suasana pedesaan yang sangat meriah dengan kembang api dan bunyi petasan di mana-mana. Orang-orang saling mengunjungi satu sama lain, baik kerabat maupun tetangga, makan bersama dan menonton pertunjukan tradisional.

Episode keempat, Ckhalik dan Nigara menuju sebuah desa Wuyuan yang sangat terkenal se-Tiongkok dengan julukan "Zhong Guo Zui Mei de Xiang Cun" (desa paling cantik di Tiongkok), berlatar belakang padang bunga yang mekar hanya di musim semi. Mereka diliput dan diajari bagaimana membuat kue tradisional, tarian tradisional di sebuah panggung teater desa dan ditonton oleh para wisatawan lokal dan mancanegara.

Di episode kelima, bersama kru TV, mereka menuju ke Kota Jiujiang, kota yang jaraknya sekitar tiga jam dengan naik mobil dari Kota Nanchang. Namun di episode terakhir ini, Nigara digantikan oleh Jumhur (mahasiswi asal Bangladesh) karena sedang tidak sehat.

Di Kota Jiujiang mereka diajari Chang Xi yakni seni drama opera lokal, yang menyerupai Beijing Opera yang terkenal seantero dunia. Mereka diajar langsung oleh master opera. Ckhalik dan Jumhur diberi tantangan oleh kru TV untuk memandu acara sebagai host tanpa teks.Tanpa menyia-nyiakannya, Ckhalik langsung mewawancarai para artis opera yang terkenal itu. Kemampuan bahasa Mandarin mereka diuji namun ternyata kedua mahasiswa asing ini dapat melakukan tugas sebagai host dengan cukup lancar.

"Selama mengikuti acara tersebut, merupakan sesuatu pengalaman yang sangat berharga dan sulit untuk dilupakan," ungkap Ckhalik, yang merupakan alumnus HI Universitas Hasanuddin, Makassar itu.

Menurut Ckhalik, bukan karena bisa tampil secara pribadi, akan tetapi dia sekaligus bangga bisa mengenalkan budaya Indonesia secara langsung yang ditonton banyak orang dengan mengenakan atribut khas Indonesia seperti baju batik, sarung khas tradisional Buton dan memakai Udeng, ikat kepala khas pulau Bali. Apalagi saat di lokasi syuting banyak yang bertanya-tanya baju batik dan sarung lembut khas Buton itu. Dan Ckhalik pun menjawab dalam bahasa Mandarin, "Ya, ini dari Indonesia!"

Berita Kiriman:

Ummy Fadhilah

Mahasiswa Magister Chinese Literature Nanchang University

DImuat di :http://news.okezone.com/read/2015/03/24/65/1123435/mahasiswa%20indonesia%20jadi%20host%20di%20tv%20tiongkok

Pada:Selasa, 24 Maret 2015 - 14:12 wib 



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)