Bermimpilah, Karena Nyawa Kehidupan Sebagian dari Impian


oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri (Mahasiswa Penerima Program Beasiswa Master Hubungan Internasional Nanchang University)


"

Kata-kata itulah yang selalu memberikan semangat pada penulis, karena dengan bermimpi hidup kita akan selalu punya keinginan untuk berusaha meraihnya, saya ingat sejak kecil ayah penulis sering mengatakan kalau besar nanti saya doakan kamu bisa kuliah ke luar negeri bisa ke Mesir atau lainnya.

Penulis lahir di sebuah desa di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, daerah yang banyak melahirkan perantau ke pelosok nusantara untuk berdagang makanan ayam goreng penyet, begitupun penulis, setelah lulus pendidikan menengah pertama, penulis merantau ke kota Semarang bersama keluarga berjualan makanan.

Di kota inilah penulis mulai sekolah menengah atas dan malamnya berjualan makanan di warung pinggir jalan, penulis menjalaninya sampai lulus kuliah dan dari pendapatan jualan itulah penulis sehari-hari membiayai hidup dan sekolah sampai kuliah.

Walaupun Keinginan bisa kuliah di perguruan tinggi negeri tidak kesampaian, penulis tetap semangat untuk kuliah di kampus swasta pilihan sendiri, karena prinsip penulis, dimanapun kuliah adalah sama saja tergantung dari bagaimana kita menjalani dan memaksimalkan dalam mengembangkan potensi kita, hal itulah yang membuat penulis aktif di berbagai kegiatan didalam maupun diluar kampus selain perkuliahan.

Kuliah sekaligus mencari banyak pengalaman mendorong penulis untuk aktif di berbagai organisasi kampus, repot dan melelahkan memang karena harus mengatur waktu antara kuliah, berorganisasi dan berjualan tapi karena sudah tekat maka penulis berusaha untuk selalu menikmati semuanya.

Penulis ingat pesan dari salah satu guru penulis ketika di pesantren dulu “Carilah ilmu sebanyak-banyaknya dan niatkan mencari ilmu itu untuk bermanfaat tidak hanya bagi dirimu tapi yang paling penting adalah bagi orang lain, carilah dimanapun kamu berada seperti apa yang di katakan Rasul Muhammad SAW dalam salah satu Hadisnya: Belajarlah walau sampai ke negeri China”.

Maka sebelum lulus kuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang, tepatnya dua bulan sebelum wisuda penulis mulai berusaha mencari informasi peluang beasiswa S2 baik di dalam negeri maupun ke luar negeri karena bagi penulis kalau kuliah dengan biaya sendiri menjadi hal yang sangat berat.

Sampai beberapa bulan penulis lakukan proses pencariannya baik melalui website maupun mencari informasi kesana kemari walaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, ada yang syarat A terpenuhi tapi syarat yang B  tidak terpenuhi dan lain sebagainya.

Sampai pada suatu hari setelah jamaah sholat ashar di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang, penulis di datangi oleh salah satu pengurus masjid namanya Fatquri Buseri, penulis kenal baik dengan beliau karena beliau juga salah satu pembina remaja masjid tersebut dimana penulis aktif di dalamnya sebagai ketua umum.

Sambil menepuk pundak penulis, beliau berkata “mas Zuhri mau tidak kuliah di China?” sambil tersenyum dan penulis pikir obrolan tersebut adalah gurauan, karena beliau senang bergurau, penulis menyahut “ya pasti mau pak apalagi kalau ada yang membiayai” beliau menyahut kembali “ini insya Allah beneran mas, besok mas Zuhri datang ke kantor takmir kita mengobrol lagi”

Sambil pulang penulis berpikir tidak karuan karena antara percaya dan tidak dan besoknya dapat kabar bahwa saya harus siap-siap menyiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan dan diminta untuk mencari segera beberapa aktifis remaja masjid Agung Jawa Tengah untuk di rekomendasikan mendapat beasiswanya.

Subhanallah, doa dan usaha penulis akhirnya Allah SWT mengabulkan, penulis mendapatkan program beasiswa dari pemerintah China melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta yang bekerjasama dengan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dalam program yang bernama Sister Mosque antara China dan Indonesia.

Program tersebut diusulkan oleh Ketua Badan Pengelola MAJT Drs. Ali Mufiz, MPA ke kedutaan China di Jakarta dan program awal adalah pengiriman sembilan orang pelajar ke China untuk belajar sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilih dan dibiayai penuh oleh pemerintah China.

Program kerja sama itu bertujuan saling meningkatkan manajemen pengelolaan masjid, termasuk merumuskan program keagamaan dan kebudayaan Islam yang inovatif. Program itu diharapkan lebih mempererat kerja sama Indonesia dengan China dalam bidang sosial budaya.

Nantinya ada pertukaran muslim China dan Indonesia. Antarmasjid juga bisa bergantian menggelar pameran kebudayaan yang berguna bagi umat Islam di dua negara.

Program itulah yang mengantarkan penulis akhirnya bisa belajar sampai di negeri China, alhamdulillah, mimpi bisa belajar di luar negeri akhirnya terkabul, bersama delapan orang lainnya dari MAJT kuliah S2 di Nanchang University.

Salah satu kutipan blogger  di dunia maya mengatakan “Pencapaian tujuan bukanlah mimpi sebenarnya, mimpi sebenarnya adalah pengejaran atau prosesnya, dengan keyakinan, kesabaran dan keikhlasan semua pasti ada waktunya.

Realisasi dari tujuan itu sendiri. Masalah apakah tujuan akhirnya tercapai atau tidak, bukan menjadi yang utama. Ketika kamu berjalan dan berusaha merealisasikan mimpi2mu, maka sebenarnya kamu telah menjadi manusia bebas”

link tulisan tentang proses beasiswa penulis:

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/09/22/160101/MAJT-dan-Diplomasi-Budaya

"