Modal Nekat


oleh: rudinndeso -- Penerima Beasiswa S2 jurusan  Computer Applied Technology Nanchang University


"

“Man jadda wa jadda”

Mungkin kalimat ini yang paling cocok dengan denganku, bagaikan film Negeri 5 Menara “man jadda wa jadda” ?barang siapa bersungguh sungguh pasti akan mendapatkannya?.

Pergi keluarnegeri hanya dengan bermodalkan nekat dan semangat tanpa mempunyai modal pengetahuan yang cukup terutama pengetahuan Bahasa asing, apalagi ke china yang katanya salah satu bahasa yang paling sulit yang masih bertahan sampai sekarang.

Belajar ke Luar negeri mungkin sesuatu sangat sulit untuk diwujudkan bagi sepertiku, orang desa yang hanya memiliki ilmu yang pas-pasan, tidak paham bahasa inggris dan yang paling parah tidak punya modal, rasanya ini hanya sekedar impian dan angan-angan yang jauh. Tapi ku selalu percaya tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha dan bekerja keras.

Hari itu bagai mendapat durian runtuh. Niat untuk berpamitan kepada Kyaiku untuk mengurangi aktivitas diPesantren untuk mengajar komputer disebuah SMA diluar Kota Asal saya (Kendal) tiba-tiba dibalas dengan tawaran yang sangat sulit aku percaya “Beasiswa kuliah diluar Negeri”,

Beasiswa itu adalah beasiswa dari Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah bekerjasama dengan Kedutaan China di Indonesia, sampai saat ini rasanya aku masih belum percaya, Datang memasuki rumah beliau dengan kepala tertunduk karena seakan tidak berani untuk meminta ijin meninggalkan pesantren. “yai kulo ketampi kerjo ten SMA ten Kendal,Nyuwun ijin kagem ngurangi aktivitas ten pondok” (Kyai saya diterima mengajar di SMA di daerah Kendal, saya minta ijin untuk mengurangi aktivitas dipesantren) beliau menjawab iya tidak  apa2 alhamdulillah, oh iyaa “koe sarjana to?” (kamu sarjanakan) kata-kata itu masih saja teringat sampai sekarang, dengan lirih dan kepala menunduk aku jawab “inggih” (iya).

Beliau bertanya lagi “ono beasiswa S2 neng chino, koe wani kuliah neng chino”(ada beasiswa S2 ke China,kamu berani kuliah ke china) sambil gugup karena tidak percaya ada tawaran beasiswa ke luar negeri aku menjawab “wantun yai” (berani kyai), tanpa panjang lebar dan dengan singkat beliau menyuruhku “yowes data-datamu gowo rene” (ya sudah biodata milikmu kasih ke aku) pinta beliau.

Dengan semangat 45 aku berlari dan langsung mencetap biodati yang tadinya ku gunakan untuk melamar pekerjaan. Lima menit kemudian aku datang lagi kerumah beliau dengan membawa biodata yang sudah ku print. Saat menyerahkan biodata tersebut beliau kembali bertanya “mengko nenk ketrimo kowe wani metu sengko kerjaanmu” (nanti kalau beasiswamu diterima kamu berani keluar dari pekerjaanmu). Dengan sadar dan semangat ku jawab “wantun yai” (berani kyai).

Dan keesokan harinya aku mulai bekerja diluar kota sambil beberapa hari setiap menjelang magrib kupulang kepesantren. Singkat cerita satu minggu berjalan, sesaat setelah merendam pakaian telponku berdering, ternyata kawan lama menelphon, pie cak (namanya najib, dia teman pesantrenku yang ikut program beasiswa juga), “beasiswane diterimo, koe bengi iki ndang neng pondok tak enteni ngisi aplikasi” (Beasiswamu diterima kamu malam ini kutunggu dipesantren untuk mengisi aplikasi). Dengan kaget dan gugup kujawab “kowe rak guyonan cak,tenanan iki” (kamu tidak bercanda cak,benaran nggak). Dengan nada yang agak gugup juga dia jawab iya bener,pokoknya mala ini tak tunggu dipesantren untuk mengisi aplikasi.

Dan keesokan harinya aku menghadap kyaiku lagi “yai Alhamdulillah beasiswanipun kulo ditampi” (kyai Alhamdulillah beasiswa saya diterima), “yowes ndang diurus sianau seng bener” (ya udah secepatnya diurus dan belajar yang baik). Itulah pesan yang selalu membuatku menjadi kuat meskipun diriku sadar akan keterbatasan dan kurangnya ilmu yang ku miliki terutama dalam penguasaan Bahasa Asing (bahasa inggris).

"